May 20, 2012 - JejakKarya    No Comments

Sebuah Senja di Sudut Kota

“Dewi?”

Ia terhenyak mendengar suaraku. Tatap matanya seakan tak percaya–dua belas tahun, sekian ratus kilometer, dan masih saja, kami bertemu muka.

“Erwin? Ka-kamu–kamu di sini juga?”

Aku mengangguk, tersenyum–entah karena senang bertemu dengannya, atau getir karena ia seakan tak menginginkan keberadaanku. Kami terdiam cukup lama, tidak hanya buku-buku bisu yang menjadi saksi–mata-mata pengunjung lainnya pun mulai bergunjing.

Aku tak ingat siapa yang mengajak, yang aku ingat, kami sudah duduk berhadapan di sebuah kedai kopi di seberang jalan. Dua cangkir cappucino menjauhkan kedua tubuh kami, namun melesapkan jarak antara dua hati. Dua hati yang dulu pernah terikat janji.

“Kamu bahagia, dengannya?” tanyaku tanpa basa-basi. “Iya,” tukasnya cepat. Terlalu cepat, malah, hingga aku tak mampu percaya.

“Anak kami sudah dua, Win. Yang besar, sudah kelas lima.”

“Anak kita?”

Ia menunduk. Tangannya mulai memainkan rambut, menariknya ke belakang telinga. Satu tarikan napas, lalu ia menatapku tajam.

“Kamu pergi begitu saja. Aku menyerahkan nyawa anak kita ke tangan dokter kandunganku.”

“A-aborsi?”

“Aku perlu menutup lembaran lama. Melupakanmu. Menghapusmu.”

Bohong! Hatiku menjerit. Kau tak pernah bisa melupakanku! 

“Yang penting, kamu bahagia, sekarang.” Ah, bibirku pandai sekali berdusta.

Hujan yang tiba-tiba turun seakan mewakili pedihnya perasaanku. Aku tak pernah menduga bisa bertemu dengannya kembali. Aku tak bisa menyangkal, tak satu pun petualanganku membahagiakanku, seperti caranya membuatku bahagia.

“Kamu beruban,” katanya kemudian, “tapi tak terlihat lebih tua.”

“Kamu masih gadis yang sama, di mataku.”

“Masihkah kamu mengembara? Dari hati yang satu, ke hati yang lain?”

Giliranku yang terdiam. Hanya mampu mengaduk kopiku perlahan.

“Maafkan aku, Erwin. Aku harus menjemput anakku.”

Kuangkat wajahku, kupaksakan senyum termanisku menghiasi wajahku. Senyum yang kuharap akan selalu ia kenang.

“Sampai bertemu lagi, Wi.” Ia hanya tersenyum, beranjak menuju kasir. Seorang laki-laki, sopirnya, tergopoh-gopoh menghampiri, membawakan barang belanjaannya ke mobil. Ia pun pergi.

Aroma tubuhnya masih tertinggal. Dinginnya hujan membuatnya semakin menyengat.

Pengembaraanku berakhir sudah. Aku sudah menemukan kembali yang dulu pernah kuhilangkan. Dan aku tak mampu lagi memilikinya.

Hidupku sudah kehabisan tujuan.

Kecuali–bus yang sedang menuju ke sini dengan kecepatan tinggi itu. Tujuan terakhirku.

May 17, 2012 - JejakBenak    2 Comments

Keberagaman dalam Keberagamaan

Aku selalu mengurungkan niat setiap kali muncul gagasan di kepalaku untuk menulis hal-hal yang berkaitan dengan agama. Entah karena agama merupakan pokok bahasan yang sangat peka, atau karena aku enggan terlibat dalam perdebatan tak berujung, aku sendiri tak tahu.

Tapi kali ini, aku memberanikan diri. Tunggu dulu; ini bukan tentang Irshad Manji, Lady Gaga, apalagi FPI.

Ini tentang segala pernik agama yang kupahami.

Kakekku, Oteng Jasmin — yang kemudian mengganti namanya dengan Hasmeng Suwardhani, beragama Katolik. Suatu hari–aku lupa tahun berapa–ia, seorang kapten, terpikat pada kecantikan seorang janda beranak satu yang sibuk di dapur umum. Ya, demikian Eyang Putri menceritakannya padaku, awal perjumpaan mereka di tengah berkecamuknya peperangan. Kalau tidak salah, settingnya adalah Agresi Militer Belanda II.

Singkat cerita, mereka menikah. Eyang Kakung tetap memeluk agama Katolik, Eyang Putri tetap memeluk agama Islam. Mereka dikaruniai sembilan anak yang semuanya dibaptis secara Katolik.

Uniknya, kesembilan anak ini pun belajar mengaji. Seorang guru mengaji didatangkan setiap sore untuk mengajar agama Islam bagi anak-anak mereka.

Aku sempat bertanya kepada Eyang Putri, Hajjah Siti Masitoch, “Lho, kok lucu, sih, Yang? Jadi semuanya agamanya dobel?”

“Lha waktu itu kan semuanya masih kecil. Masih belum ngerti. Kalau dipaksa ikut agamanya Eyang Kakung atau Eyang Putri ya ndak adil, tho. Karena kami tahunya cuma dua agama itu, ya dua-duanya diajarin. Besok kalau udah gede, mereka bisa milih sendiri, lebih sreg yang mana.”

“Agama kok pake sreg-sregan, tho, Yang?” tanyaku lagi.

“Lha piye tho kowe le… Agama itu kan semua ngajarin kebaikan. Memuliakan Tuhan, mengasihi sesama. Itu. Tok. Nah, caranya aja yang beda-beda. Koyo pas kowe menyang Nyogja. Bisa naik kereta, bisa naik mobil, bisa naik bus. Kowe seneng sing endi?”

“Enak naik kereta, Yang….”

“Eyang lebih suka naik bus.”

Begitulah. Jadi, Mamaku, meski sudah dibaptis dengan nama “Lucia”, dan ke Gereja setiap hari Minggu, tetap belajar mengaji setiap sore, sampai sudah khatam Al-Quran. Sepengetahuanku, tidak satu pun dari anak-anak Eyang yang menentang; masalah terkadang malas belajar agama itu, sih, untuk anak-anak sudah lazim, kan, ya?

Sampai pada suatu waktu, Mamaku mengisi formulir pendaftaran untuk masuk SMP. Saat itulah ia pertama kali harus memilih untuk mengisi kolom “Agama”. Kalau mau dikilas balik, aku yakin Mamaku mengalami dilema besar saat itu. Bukan karena harus memilih salah satu dari dua agama yang dipelajarinya, melainkan karena harus “mengkhianati” salah satu dari kedua orang tuanya.

Mamaku memilih Katolik. Lima dari sembilan anak-anak Eyang memilih Katolik. Empat memilih Islam.

Eyang Kakung dan Eyang Putri tak pernah mempermasalahkan hal itu.

Lalu, adakah perpecahan dalam keluarga kami? Tidak.

Idul Fitri dan Natal, Idul Adha dan Paskah, selalu kami rayakan bersama-sama. Aku masih ingat sekali; Eyang Putri, Bude, Pakde, Om, Tante, dan para sepupu yang muslim sudah sibuk sejak pagi mempersiapkan diri untuk Sholat Ied. Tante dan Om yang Katolik akan mengantar mereka–kadang menunggu sampai selesai, kadang hanya mengantar dan kemudian menjemput lagi. Kami, yang di rumah Eyang, kerja bakti–membersihkan rumah, karena nanti pasti akan ada banyak tamu, menyiapkan penganan untuk suguhan, dan–favoritku–menyajikan masakan Eyang di meja makan.

Tak beda jauh bila Natal tiba. Eyang akan menyibukkan diri memasak menu-menu kesukaan cucu-cucunya. Sepupu-sepupuku yang berbeda agama pun akan membantu menghias Pohon Natal, membungkus kado-kado Natal yang kami beli bersama-sama.

Pada suatu bulan Ramadhan, aku dan beberapa sepupu berjalan-jalan menyusuri Malioboro. Novi, sepupuku yang muslim, mengingatkan aku dan Mas Iwan–kami berdua Katolik–untuk makan siang. Tadinya aku dan Mas Iwan berpikir untuk nanti saja makannya. Nggak enak sama yang lagi puasa.

“Ealah, Mas. Yang puasa aku kok yang repot kalian. Wis, tho… Nggak bakal batal puasaku cuma karena lihat kalian makan. Puasaku malah bakal batal kalau aku nangis gara-gara kalian pingsan kelaperan.”

Kami beragam. Kami pun tetap beragama. Keberagaman kami, tak sedikit pun mengganggu keberagamaan kami.

Toh, aku harus maklum, bahwa apa yang di luar sana, tidak seperti apa yang terjadi di dalam keluargaku. Aku hanya bisa bersyukur, bahwa kali ini, rumput tetangga tidak lebih hijau.

Apr 18, 2012 - JejakKarya, JejakSajak    No Comments

Penantian

Dua bangku termangu di sudut teras–menanti; rindu mengepul ditingkahi sepasang sepatu yang mondar-mandir gelisah.

“Siapakah itu, di depan sana?” tanya benak ketika hati mulai melonjak-lonjak–gemerisik di luar, perlahan pudar.

Malam menua, renta, lalu pasrah pada kokok ayam yang membahana. Dua bangku, tak pernah menunaikan tugasnya.

Sepasang sepatu teronggok di depan pintu–tak terkunci, masih mengharap datangnya tamu; kepulan rindu, mengabu, di bening kaca.

Ubud, 18 April 2012

Apr 9, 2012 - JejakKarya, JejakSajak    No Comments

Kepada Keheningan

untuk Roy

Kepada keheningan yang menggantung di bibirmu,
kau lebih tajam dari sembilu;
mengiris perih sepi dengan rapi.

Kepada keheningan yang bergelayut di lidahmu,
kau lebih deras dari jeram;
mengikis kelam semakin muram;

Kepada keheningan yang bersemayam di rongga mulutmu,
kau lebih panas dari amukan surya;
mendidihkan malam yang pualam.

Kepada keheningan yang menari-nari di sela-sela geligimu,
kau lebih dingin dari tatapan rembulan;
memisahkan bara dari apinya.

Kepada keheninganmu,
aku kelu.

Ubud, 9 April 2012

Pages:1234567...25»