JejakKarya
No Comments Sebuah Senja di Sudut Kota
“Dewi?”
Ia terhenyak mendengar suaraku. Tatap matanya seakan tak percaya–dua belas tahun, sekian ratus kilometer, dan masih saja, kami bertemu muka.
“Erwin? Ka-kamu–kamu di sini juga?”
Aku mengangguk, tersenyum–entah karena senang bertemu dengannya, atau getir karena ia seakan tak menginginkan keberadaanku. Kami terdiam cukup lama, tidak hanya buku-buku bisu yang menjadi saksi–mata-mata pengunjung lainnya pun mulai bergunjing.
Aku tak ingat siapa yang mengajak, yang aku ingat, kami sudah duduk berhadapan di sebuah kedai kopi di seberang jalan. Dua cangkir cappucino menjauhkan kedua tubuh kami, namun melesapkan jarak antara dua hati. Dua hati yang dulu pernah terikat janji.
“Kamu bahagia, dengannya?” tanyaku tanpa basa-basi. “Iya,” tukasnya cepat. Terlalu cepat, malah, hingga aku tak mampu percaya.
“Anak kami sudah dua, Win. Yang besar, sudah kelas lima.”
“Anak kita?”
Ia menunduk. Tangannya mulai memainkan rambut, menariknya ke belakang telinga. Satu tarikan napas, lalu ia menatapku tajam.
“Kamu pergi begitu saja. Aku menyerahkan nyawa anak kita ke tangan dokter kandunganku.”
“A-aborsi?”
“Aku perlu menutup lembaran lama. Melupakanmu. Menghapusmu.”
Bohong! Hatiku menjerit. Kau tak pernah bisa melupakanku!
“Yang penting, kamu bahagia, sekarang.” Ah, bibirku pandai sekali berdusta.
Hujan yang tiba-tiba turun seakan mewakili pedihnya perasaanku. Aku tak pernah menduga bisa bertemu dengannya kembali. Aku tak bisa menyangkal, tak satu pun petualanganku membahagiakanku, seperti caranya membuatku bahagia.
“Kamu beruban,” katanya kemudian, “tapi tak terlihat lebih tua.”
“Kamu masih gadis yang sama, di mataku.”
“Masihkah kamu mengembara? Dari hati yang satu, ke hati yang lain?”
Giliranku yang terdiam. Hanya mampu mengaduk kopiku perlahan.
“Maafkan aku, Erwin. Aku harus menjemput anakku.”
Kuangkat wajahku, kupaksakan senyum termanisku menghiasi wajahku. Senyum yang kuharap akan selalu ia kenang.
“Sampai bertemu lagi, Wi.” Ia hanya tersenyum, beranjak menuju kasir. Seorang laki-laki, sopirnya, tergopoh-gopoh menghampiri, membawakan barang belanjaannya ke mobil. Ia pun pergi.
Aroma tubuhnya masih tertinggal. Dinginnya hujan membuatnya semakin menyengat.
Pengembaraanku berakhir sudah. Aku sudah menemukan kembali yang dulu pernah kuhilangkan. Dan aku tak mampu lagi memilikinya.
Hidupku sudah kehabisan tujuan.
Kecuali–bus yang sedang menuju ke sini dengan kecepatan tinggi itu. Tujuan terakhirku.